Bali, asyik bisa bepergian ke pedesaan. Terhindar dari sesak kota, debu, polusi, kemacetan. Pemandangan alam di pegunungan Pulau Dewata luar biasa. Sawah hijau terkena sinar matahari pagi, pohon-pohon rimbun, burung terbang, beberapa anjing bermalasan. Otak segar.
Saya pandangi semua itu dari ketinggian tower 52 mtr. Bumi berputar, sinar matahari berpindah dari timur menuju barat. Pekerjaan pemasangan antena dan radio selesai, jarum jam menunjuk pukul empat sore. Saatnya turun dari tower. Bersiap melepas safety, sekilas mata menuju ke arah bawah. Sungai membentang, aliran air menderu menabrak bebatuan.
Saya gerakan mata menjauh dari sungai, sekumpulan perempuan berjalan menuju tepi sungai membawa beberapa pakaian. Tubuh mereka ditutupi kain sarung mulai dari dada. Ada anak kecil, remaja, dewasa dan nenek-nenek, jumlah mereka sekitar 15 perempuan. Ya mereka mandi di sungai lepas kain sarung tanpa sehelai benang. Telanjang. Tertawa. Tersenyum. Tak ada kekuatiran diintip, atau malu. Semua itu saya saksikan dari ketinggian tower 52 mtr.
Thursday, August 1, 2013
Monday, July 1, 2013
Bab 29 Anak Bearland
Saya di besarkan di kompleks Bearland (baca: berlan), daerah jalan matraman, Jakarta Timur. Berdasarkan cerita, jaman sebelum saya lahir, nama Bearland sudah terkenal karena kompleks TNI. Disana juga ada perumahan komplek Polisi Militer guntur manggarai. Tahu sendirikan kalau anak kolong gimana sifatnya ... hihihi ... tahun 70an dan 80an, anak Bearland ditakuti.
Kalau saya generasi remaja tahun 90an, tidak sedahsyat para senior-senior dulu. Katanya para senior-senior itu kemana-mana bawa granat dan pistol. Saya justru takut dengan keributan, hehehe. Kerjaan di Bearland cuma main bola saja antar RT, mandi di sungai ciliwung dan pintu air manggarai. Kadang kita ngeloyor pakai batang pohon pisang dari bukit duri sampai pintu air manggarai. Curi jambu tetangga, curi burung dara di kebon manggis.
Kini hampir 10 tahun ngak tinggal di Bearland. Ayah dan ibu juga sudah pindah ke Bekasi. Satu yang saya ingat, lapangan ada dimana-mana saat saya tumbuh di sana. Bermain dan bermain selalu bermain.
Kalau saya generasi remaja tahun 90an, tidak sedahsyat para senior-senior dulu. Katanya para senior-senior itu kemana-mana bawa granat dan pistol. Saya justru takut dengan keributan, hehehe. Kerjaan di Bearland cuma main bola saja antar RT, mandi di sungai ciliwung dan pintu air manggarai. Kadang kita ngeloyor pakai batang pohon pisang dari bukit duri sampai pintu air manggarai. Curi jambu tetangga, curi burung dara di kebon manggis.
Kini hampir 10 tahun ngak tinggal di Bearland. Ayah dan ibu juga sudah pindah ke Bekasi. Satu yang saya ingat, lapangan ada dimana-mana saat saya tumbuh di sana. Bermain dan bermain selalu bermain.
Saturday, June 1, 2013
Bab 28 Nyalain Korek di Tower
Jawaban Bab 22, bagaimana menyalakan korek di ketinggian 32 meter atau lebih ?
Inti'nya adalah menghalangi api supaya tidak tertiup angin. Leher baju yang kita pakai dinaikan ke dahi sehingga wajah tertutup. Masukan tangan dan korek ke dalam baju melewati perut. Selipkan rokok dimulut. Mulai hidupkan korek. Angin tertahan baju kita. Menyalah rokok. Silahkan mencoba.
Inti'nya adalah menghalangi api supaya tidak tertiup angin. Leher baju yang kita pakai dinaikan ke dahi sehingga wajah tertutup. Masukan tangan dan korek ke dalam baju melewati perut. Selipkan rokok dimulut. Mulai hidupkan korek. Angin tertahan baju kita. Menyalah rokok. Silahkan mencoba.
Monday, April 1, 2013
Bab 27 Perpustakaan Gratis
Bersyukur masa kecil di kompleks Bearland, jalan matraman, Jakarta Timur. Mengapa demikian ? Ini karena ada toko buku yang berdiri disana, tepatnya di depan daerah tegalan matraman, yaitu Toko Buku GRAMEDIA.
Saya baca semua buku tiap rak yang ada di Gramedia Matraman. Nah kalau buku yang diplastik, saya robek aja lalu baca, anak Bearland gito loh, satpam dan penjaga juga ngak berani negur ... hihihi. Ngak kebayang jika ngak ada Gramedia, mungkin saya sudah jadi preman, jeger kelas teri. Buku yang saya baca antara lain cerita rakyat Indonesia, 1001 malam, Rin Tintin, Lima Sekawan, STOP, Seri Tokoh Penemu, Politik, Biografi Tokoh Indonesia, buku sejarah, fisika dan matematika.
Membaca itulah yang membuka wawasan hidup saya. Saya percaya, jika kita memulai dengan membaca dan budaya membaca mengakar maka bangsa ini akan bangkit. Kadang saya ingin tahu, apa landasan pihak Kompas Group membangun toko buku Gramedia di jalan matraman Jakarta Timur, secara disana biang keributan dan tawuran !!!
Saya baca semua buku tiap rak yang ada di Gramedia Matraman. Nah kalau buku yang diplastik, saya robek aja lalu baca, anak Bearland gito loh, satpam dan penjaga juga ngak berani negur ... hihihi. Ngak kebayang jika ngak ada Gramedia, mungkin saya sudah jadi preman, jeger kelas teri. Buku yang saya baca antara lain cerita rakyat Indonesia, 1001 malam, Rin Tintin, Lima Sekawan, STOP, Seri Tokoh Penemu, Politik, Biografi Tokoh Indonesia, buku sejarah, fisika dan matematika.
Membaca itulah yang membuka wawasan hidup saya. Saya percaya, jika kita memulai dengan membaca dan budaya membaca mengakar maka bangsa ini akan bangkit. Kadang saya ingin tahu, apa landasan pihak Kompas Group membangun toko buku Gramedia di jalan matraman Jakarta Timur, secara disana biang keributan dan tawuran !!!
Friday, February 1, 2013
Bab 26 Bakar Rokok
Kadang saya dan teman-teman di atas tower sampai malam, apalagi kalau pekerjaan upgrade, harus mulai kerja jam 12 malam selesai subuh jam 5 pagi. Udara dingin dan ANGIN menusuk tulang. Paling enak dan asyik adalah merokok. Gimana merokok di atas tower ketinggian 20 mtr atau lebih, bahkan 72 mtr ???
ANGIN, itu masalah. Masalah bagaimana ? Musuh saat nyalain api. API ngak nyala berarti ngak bisa merokok, kecuali kalau pengen digigit-gigit aja tuh rokok ... hihihi ...
Bagaimana mencegah api tidak tertiup angin saat saya nyalain di ketinggian 72 meter ? Nah, kalian pembaca blog ini, coba pikirkan dan segera tutup mata sepuluh detik. Berhitung mulai ... satu dua tiga empat lima enam tujuh delapan sembilan sepuluh !!!
Buka mata sekarang, udah nemu ide gimana caranya ngak ? Belum. Nah kapan-kapan kalian ikut saya panjat tower 72 meter !!!
ANGIN, itu masalah. Masalah bagaimana ? Musuh saat nyalain api. API ngak nyala berarti ngak bisa merokok, kecuali kalau pengen digigit-gigit aja tuh rokok ... hihihi ...
Bagaimana mencegah api tidak tertiup angin saat saya nyalain di ketinggian 72 meter ? Nah, kalian pembaca blog ini, coba pikirkan dan segera tutup mata sepuluh detik. Berhitung mulai ... satu dua tiga empat lima enam tujuh delapan sembilan sepuluh !!!
Buka mata sekarang, udah nemu ide gimana caranya ngak ? Belum. Nah kapan-kapan kalian ikut saya panjat tower 72 meter !!!
Saturday, December 1, 2012
Bab 25 SUPERTEAM
Terbang ke Balikpapan. Mengerjakan proyek BTS di kantor perusahaan minyak asal Prancis. Urus ijin di gerbang, lalu ke lokasi tower yang jalannya menanjak. Ternyata ada perumahan karyawan elite. Sepanjang jalan, ternyata sinyal GSM blank, kayak di jaman batu, pantesan mereka komplen dan ingin agar sinyal GSM ada.
Pertamakali, sebelum panjat tower, saya dan 2 orang teman diperiksa oleh dokter. Dicek tekanan darah. Ternyata saya dilarang naik tower karena tekanan darah lagi rendah. Konsep SAFETY FIRST benar-benar diutamakan. Sebelum panjat tower, tool dan sepatu kita diperiksa harus sesuai standar perusahaan minyak itu.
Jam 12 siang, 2 orang teman masih di tower. Tiba-tiba datang team safety, mengingatkan saya dan 2 teman untuk turun dari tower. Kata saya "Pak, kita dikejar-kejar target, apa tidak bisa diteruskan". Kata tim safety "Tidak boleh, semua harus turun". Setelah teman-teman sampai dibawah, tim safety berkata "Disini, waktu istirahat, harus istirahat, tidak boleh bekerja. Lanjutnya "Kita tidak butuh superman tetapi kita butuh SUPERTEAM".
Pertamakali, sebelum panjat tower, saya dan 2 orang teman diperiksa oleh dokter. Dicek tekanan darah. Ternyata saya dilarang naik tower karena tekanan darah lagi rendah. Konsep SAFETY FIRST benar-benar diutamakan. Sebelum panjat tower, tool dan sepatu kita diperiksa harus sesuai standar perusahaan minyak itu.
Jam 12 siang, 2 orang teman masih di tower. Tiba-tiba datang team safety, mengingatkan saya dan 2 teman untuk turun dari tower. Kata saya "Pak, kita dikejar-kejar target, apa tidak bisa diteruskan". Kata tim safety "Tidak boleh, semua harus turun". Setelah teman-teman sampai dibawah, tim safety berkata "Disini, waktu istirahat, harus istirahat, tidak boleh bekerja. Lanjutnya "Kita tidak butuh superman tetapi kita butuh SUPERTEAM".
Monday, October 1, 2012
Bab 24 Reuni Ibu Guru
Ibu ku seorang guru, mengajar bahasa inggris di SMAN 27 Salemba Jakarta Pusat. Tahun 2007 pensiun. Pengabdian 27 tahun bagi anak negeri ini. Perkembangan jejaring sosial internet memberi dampak kepada ibu. Semua orang bisa terhubung. Pertemanan semasa SD, SMP, SMA, Universitas dan banyak lagi, telah dipersatukan oleh Facebook.
Sejak maraknya Facebook, ibu sering diundang untuk temu alumni murid-murid SMAN 27. Dari telah lulus 10 tahun lalu sampai 20 tahun lalu. Dari lokasi di sekolah sampai restauran dan alam terbuka. Saya sering mengantar ibu ketempat pertemuan hanya menggunakan motor. Sementara mobil-mobil berderet diparkiran, yang dipunyai anak muridnya di SMAN 27. Saya melihat ibu menangis meneteskan air mata, saat mantan murid-muridnya menyalami dan mencium tangan ibu. Kata ibu "Kalian sudah sukses, tetapi yang belum juga ada, Ibu tetap bangga pada kalian semua, murid-murid Ibu".
Diakhir acara biasanya Ibu diberi cenderamata oleh panitia atau amplop berisi sejumlah uang. Setiap amplop yang dibuka, Ibu selalu mengucap syukur bahwa mereka masih ingat Ibu. Dari cerita Ibu saya menyimpulkan semakin tua angkatan yang mengundang, semakin tebal isi amplop yang diterima Ibu.
Terimakasih kepada abang-abang dan kakak-kakak alumni SMAN 27 yang masih mengingat Ibu Marintan Siregar.
Sejak maraknya Facebook, ibu sering diundang untuk temu alumni murid-murid SMAN 27. Dari telah lulus 10 tahun lalu sampai 20 tahun lalu. Dari lokasi di sekolah sampai restauran dan alam terbuka. Saya sering mengantar ibu ketempat pertemuan hanya menggunakan motor. Sementara mobil-mobil berderet diparkiran, yang dipunyai anak muridnya di SMAN 27. Saya melihat ibu menangis meneteskan air mata, saat mantan murid-muridnya menyalami dan mencium tangan ibu. Kata ibu "Kalian sudah sukses, tetapi yang belum juga ada, Ibu tetap bangga pada kalian semua, murid-murid Ibu".
Diakhir acara biasanya Ibu diberi cenderamata oleh panitia atau amplop berisi sejumlah uang. Setiap amplop yang dibuka, Ibu selalu mengucap syukur bahwa mereka masih ingat Ibu. Dari cerita Ibu saya menyimpulkan semakin tua angkatan yang mengundang, semakin tebal isi amplop yang diterima Ibu.
Terimakasih kepada abang-abang dan kakak-kakak alumni SMAN 27 yang masih mengingat Ibu Marintan Siregar.
Sunday, April 1, 2012
Bab 23 Lahan Tiga Istri
Jika anda memiliki istri lebih dari satu, jangan lupa membuat WARISAN terhadap harta anda. Baik bergerak dan tidak bergerak. Sebidang tanah bisa menjadi pertumpahan darah, bukan dengan orang lain, tapi sesama saudara. Beberapa lahan yang disewakan untuk pembangunan BTS, menemukan hal tersebut.
Entah siapa yang benar !!!
Mereka saling mengakui bahwa lahan tersebut warisan'nya. Saling membawa pengacara. Ujung-ujung'nya keributan.
Dihadapan saya menangis seorang ibu. Beberapa tahun lalu, pertamakali kontrak lahan dengan ibu tersebut, istri ke tiga. Tapi kontrak lahan sudah direbut oleh keluarga lain saat perpajangan kontrak. Ibu itu bercerita apa yang terjadi, kata sih ibu "Saya sudah janda, dulu saya yang mengurus suami saat sakit, mereka tidak peduli". Saya hanya bisa mendengar saja. Semoga ada solusi terbaik untuk pihak yang bertikai.
Entah siapa yang benar !!!
Mereka saling mengakui bahwa lahan tersebut warisan'nya. Saling membawa pengacara. Ujung-ujung'nya keributan.
Dihadapan saya menangis seorang ibu. Beberapa tahun lalu, pertamakali kontrak lahan dengan ibu tersebut, istri ke tiga. Tapi kontrak lahan sudah direbut oleh keluarga lain saat perpajangan kontrak. Ibu itu bercerita apa yang terjadi, kata sih ibu "Saya sudah janda, dulu saya yang mengurus suami saat sakit, mereka tidak peduli". Saya hanya bisa mendengar saja. Semoga ada solusi terbaik untuk pihak yang bertikai.
Thursday, March 1, 2012
Bab 22 Tukang Gali
Proyek optik diberhentikan warga. Pihak RT/RW dan kelurahan mengadakan pertemuan. Berikut kalimat Paijo dihadapan warga setempat.
"Bapak-bapak yang terhormat. Saya adalah warga negara Indonesia. Mencari makan untuk anak istri keluarga. Kami mendapat pekerjaan dari operator telekomunikasi. Pihak operator membuka banyak lapangan pekerjaan. Tapi saat ini, pekerjaan kami diberhentikan oleh Bapak-bapak sekalian. Saya hanyalah tukang gali tanah. Saya tidak tahu undang-undang yang Bapak-bapak sampaikan. Mungkin Bapak-bapak menuntut kompensasi sejumlah uang. Yang saya tahu, kita beratap langit sama, berdiri di tanah ibu pertiwi yang sama tetapi saling menghancurkan, saling memalak. Anak istri saya, menangis saat ini, karena ayahnya pulang tidak membawa uang. Pekerjaan kita belum selesai. Hidup anak-anak dan istri kami, ada ditangan Bapak-bapak semua yang hadir disini"
"Bapak-bapak yang terhormat. Saya adalah warga negara Indonesia. Mencari makan untuk anak istri keluarga. Kami mendapat pekerjaan dari operator telekomunikasi. Pihak operator membuka banyak lapangan pekerjaan. Tapi saat ini, pekerjaan kami diberhentikan oleh Bapak-bapak sekalian. Saya hanyalah tukang gali tanah. Saya tidak tahu undang-undang yang Bapak-bapak sampaikan. Mungkin Bapak-bapak menuntut kompensasi sejumlah uang. Yang saya tahu, kita beratap langit sama, berdiri di tanah ibu pertiwi yang sama tetapi saling menghancurkan, saling memalak. Anak istri saya, menangis saat ini, karena ayahnya pulang tidak membawa uang. Pekerjaan kita belum selesai. Hidup anak-anak dan istri kami, ada ditangan Bapak-bapak semua yang hadir disini"
Sunday, December 25, 2011
Bab 21 "Bersinar seperti Bintang"
Bandung, tanggal 16 Desember 2011 yang lalu saya cuti. Tepatnya hari jumat, dalam rangka menghadiri perayaan natal sekolah minggu Gereja Kristen Pasundan Kebon Jati Bandung. Anak tercinta kami Serafina berusia 3 tahun akan tampil menyanyi dengan judul "ku punya berita"
Pukul 4 sore, saya, istri dan Serafina tiba di GKP Kebon Jati. Udara dingin dan cuaca mendung menyelimuti kota Bandung. Suasana halaman gereja sudah ramai oleh guru-guru sekolah minggu yang menyambut anak-anak dan orang tua dengan meja sederhana untuk pengisian buku tamu. Demikian juga para orang tua yang menggandeng anak-anak dan menggendong balita. Beberapa anak yang lain berlari kesana kemari.
Serafina menggunakan baju berwarna hijau, saya dan istri menggunakan baju berwarna putih. Warna baju ini ternyata berhubungan dengan tema perayaan natal tahun ini "Bersinar Seperti Bintang". Balita bintang hijau, anak SD bintang merah dan biru, anak SMP bintang kuning, guru-guru sekolah minggu bintang ungu dan orang tua bintang putih.
Serafina dan teman-temannya tampil di awal perayaan natal. Gerak kaki ke kiri dan ke kanan, tangan ke atas. Diperayaan natal tersebut, anak-anak sekolah minggu bernyanyi, membaca puisi, menari dan drama. Mereka menjadi bintang-bintang kecil yang mewarnai hati kami.Gedung gereja peninggalan Belanda yang masuk cagar budaya yang dilindungi pemkot Bandung menjadi beranda bintang-bintang kecil.
Diantara tiang gereja yang berusia puluhan tahun dan keaslian bangunan gereja yang tidak boleh diubah, ada drama yang dilakukan oleh anak-anak sekolah minggu kelompok SD dan SMP. Dua kelompok diiringi musik melakukan "battle dancing", mereka saling bersaing. Kami yang menyaksikan tertawa dengan kelucuan yang tercipta, ada anak yang gagal melakukan putaran dengan poros kepala, sepertinya dia juga ragu-ragu. Di akhir drama seorang guru sekolah minggu berkata :
"Menjadi bintang tidak harus menjadi juara. Menjadi bintang tidak harus menjadi pemenang. Tapi jadilah sederhana dan penuh cinta kasih".
Mendengar kalimat tersebut, istri dan saya termenung. Kalimat itu sangat menyentuh hati kami, kalimat tersebut bukan untuk anak-anak tetapi mungkin lebih tepat untuk orang tua. Terimakasih untuk guru-guru sekolah minggu GKP Kebon Jati Bandung, semoga TUHAN memberkati pelayanan kalian.
"Selamat Natal 2011 dan Selamat Tahun Baru 2012"
Pukul 4 sore, saya, istri dan Serafina tiba di GKP Kebon Jati. Udara dingin dan cuaca mendung menyelimuti kota Bandung. Suasana halaman gereja sudah ramai oleh guru-guru sekolah minggu yang menyambut anak-anak dan orang tua dengan meja sederhana untuk pengisian buku tamu. Demikian juga para orang tua yang menggandeng anak-anak dan menggendong balita. Beberapa anak yang lain berlari kesana kemari.
Serafina menggunakan baju berwarna hijau, saya dan istri menggunakan baju berwarna putih. Warna baju ini ternyata berhubungan dengan tema perayaan natal tahun ini "Bersinar Seperti Bintang". Balita bintang hijau, anak SD bintang merah dan biru, anak SMP bintang kuning, guru-guru sekolah minggu bintang ungu dan orang tua bintang putih.
Serafina dan teman-temannya tampil di awal perayaan natal. Gerak kaki ke kiri dan ke kanan, tangan ke atas. Diperayaan natal tersebut, anak-anak sekolah minggu bernyanyi, membaca puisi, menari dan drama. Mereka menjadi bintang-bintang kecil yang mewarnai hati kami.Gedung gereja peninggalan Belanda yang masuk cagar budaya yang dilindungi pemkot Bandung menjadi beranda bintang-bintang kecil.
Diantara tiang gereja yang berusia puluhan tahun dan keaslian bangunan gereja yang tidak boleh diubah, ada drama yang dilakukan oleh anak-anak sekolah minggu kelompok SD dan SMP. Dua kelompok diiringi musik melakukan "battle dancing", mereka saling bersaing. Kami yang menyaksikan tertawa dengan kelucuan yang tercipta, ada anak yang gagal melakukan putaran dengan poros kepala, sepertinya dia juga ragu-ragu. Di akhir drama seorang guru sekolah minggu berkata :
"Menjadi bintang tidak harus menjadi juara. Menjadi bintang tidak harus menjadi pemenang. Tapi jadilah sederhana dan penuh cinta kasih".
Mendengar kalimat tersebut, istri dan saya termenung. Kalimat itu sangat menyentuh hati kami, kalimat tersebut bukan untuk anak-anak tetapi mungkin lebih tepat untuk orang tua. Terimakasih untuk guru-guru sekolah minggu GKP Kebon Jati Bandung, semoga TUHAN memberkati pelayanan kalian.
"Selamat Natal 2011 dan Selamat Tahun Baru 2012"
Thursday, December 1, 2011
Bab 20 Toraja Dari Tower
Sejauh mata memandang ...
Pegunungan hijau membentang. Saya pandangi tanah Toraja. Dari tower telkom 30 meter di puncak tertinggi pegunungan. Serasa alam menyapa, bahkan memeluk erat tubuh ini. Barisan bukit hijau bernyanyi, diterangi cahaya pagi sang matahari.
Kekaguman kedahsyatan keindahan. Segala puji untuk alam Toraja. Saya tidak mau turun, ingin diatas tower ini selamanya. Nikmati sang penguasa keindahan dan berteriak "AKU bangga jadi Anak INDONESIA"
Bangkitlah negeri ku INDONESIA !!!
Pegunungan hijau membentang. Saya pandangi tanah Toraja. Dari tower telkom 30 meter di puncak tertinggi pegunungan. Serasa alam menyapa, bahkan memeluk erat tubuh ini. Barisan bukit hijau bernyanyi, diterangi cahaya pagi sang matahari.
Kekaguman kedahsyatan keindahan. Segala puji untuk alam Toraja. Saya tidak mau turun, ingin diatas tower ini selamanya. Nikmati sang penguasa keindahan dan berteriak "AKU bangga jadi Anak INDONESIA"
Bangkitlah negeri ku INDONESIA !!!
Tuesday, November 1, 2011
Bab 19 Jakarta Dari Tower
Jakarta dari tower 42 meter,Cakung jakarta timur. Macet. Rumah kumuh. Jalan tol melintas. Antena tv di genteng rumah. Jemuran. Pejalan kaki. Orang naik angkot. Asap knalpot kendaraan hitam. Truk kontainer. Polusi udara. Jalan berlobang. Panas panas panas. Tak terlihat tuh pohon hijau.
Ya sudah, lebih baik turun dari tower. Saya mau manjat tower di Tanah Toraja Sulawesi.
Wednesday, October 5, 2011
Bab 18 Damai Poso #4/4
Ketika duduk di pesawat ketinggian 12.000 kaki, pikiran melintas seorang prajurit TNI saat di Poso yang berkata "Makasih Mas, saya bisa berkomunikasi dengan keluarga tanpa putus-putus" dengan menampakan wajah gembira beliau berkata kembali "Jelas sekali suara anak saya". Air mata ini menetes memandang awan putih melalui jendela pesawat."Selamat bertugas wahai prajurit-prajurit TNI dan Polri dimanapun kalian berada"
"Selamat HUT TNI ke 66, 5 Oktober 2011"
Saturday, October 1, 2011
Bab 17 Damai Poso #3/4
Misi komplit, sinyal GSM sudah bisa dinikmati warga Poso, terutama aparat TNI dan kepolisian yang semula menggunakan telepon satelit. Pada saat Bapak Yusuf Kalla tiba di Poso, saya sudah berada di pesawat ketinggian 12.000 kaki, melanjutkan perjalanan ke kota lain.
Damai Poso. Damai NEGERI ku INDONESIA.
Damai Poso. Damai NEGERI ku INDONESIA.
Thursday, September 1, 2011
Bab 16 Yuk Makan
Serafina digendong 'Ratu Dongeng' Poetri Soehendro, penyiar pagi-pagi i-radio 89.6 FM Jakarta ketika acara Yuk Makan Edisi 2 di restauran Sandwich Bakar, kelapa gading, Juni 2009. Usia Serafina sekitar 8 bulan. Makasih ya Mba Poetri Bang Rafiq dan kru i-radio Ade 'Pentol Korek' Putra dan Nino Budiyanto atas undangan Yuk Makan ini.
Ayo tebak, Bang Rafiq dimana ?
...bersambung...
Monday, August 1, 2011
Bab 15 Supir Gila
Setelah pekerjaan pemasangan antena link di Manado selesai, saya dapat tugas ke Gorontalo. Saya menolak naik pesawat, ingin jalan darat. Saya ingin menikmati keindahan alam Manado. Ke travel mobil, pesan tiket. Rencana berangkat pukul 5 sore. Aneh juga harga tiket travel mobil di Manado, beda-beda, tergantung tempat duduk. Paling mahal duduk depan 90ribu rupiah, lalu tengah 70ribu rupiah dan termurah belakang 60ribu rupiah.
Mobil mulai meluncur, menyusuri pinggir laut, indah sekali laut di sore hari. Setelah 4 jam perjalanan, berhenti untuk istirahat dan makan malam sekitar pukul 9 malam. Direstauran itu ternyata tempat pemberhentian mobil-mobil travel lain. Selesai makan malam, mobil kembali jalan dengan berkonvoi, sekitar 6 mobil. Dimulailah ketegangan.
Dasar supir gila dan ini cuma ada di Manado. Saat konvoi 6 mobil, hanya mobil paling depan yang menyalakan lampu. Mobil deret ke dua sampai ke enam, matikan lampu. GILA GILA GILA !!! Saya sama saja berjalan dipinggir maut, pintu neraka terbuka lebar. Saya ada di mobil deret ke tiga. Kecepatan 100 km/jam, jarak antar mobil sejenggal jari tangan. Nempel banget karena cahaya hanya dari mobil paling depan.
Saya mual-mual, sering berkata "Bang awas" sambil pegangan dashboard, tutup mata, demikian juga penumpang yang lain. Anda bayangkan, 12 jam perjalanan seperti itu. Lebih gila, kadang mobil paling depan, tiba-tiba matikan lampu. Mobil dibelakang panik, langsung nyalakan lampu. Ampun deh. Saya super kapok naik travel lagi Manado - Gorontalo dan sebaliknya.
Mobil mulai meluncur, menyusuri pinggir laut, indah sekali laut di sore hari. Setelah 4 jam perjalanan, berhenti untuk istirahat dan makan malam sekitar pukul 9 malam. Direstauran itu ternyata tempat pemberhentian mobil-mobil travel lain. Selesai makan malam, mobil kembali jalan dengan berkonvoi, sekitar 6 mobil. Dimulailah ketegangan.
Dasar supir gila dan ini cuma ada di Manado. Saat konvoi 6 mobil, hanya mobil paling depan yang menyalakan lampu. Mobil deret ke dua sampai ke enam, matikan lampu. GILA GILA GILA !!! Saya sama saja berjalan dipinggir maut, pintu neraka terbuka lebar. Saya ada di mobil deret ke tiga. Kecepatan 100 km/jam, jarak antar mobil sejenggal jari tangan. Nempel banget karena cahaya hanya dari mobil paling depan.
Saya mual-mual, sering berkata "Bang awas" sambil pegangan dashboard, tutup mata, demikian juga penumpang yang lain. Anda bayangkan, 12 jam perjalanan seperti itu. Lebih gila, kadang mobil paling depan, tiba-tiba matikan lampu. Mobil dibelakang panik, langsung nyalakan lampu. Ampun deh. Saya super kapok naik travel lagi Manado - Gorontalo dan sebaliknya.
Friday, July 1, 2011
Bab 14 Damai Poso #2/4
...sambungan dari Bab 11 Damai Poso #1
Diterangi sorot lampu mobil. Melintas gelap hutan dan pegunungan. Ibu baik hati bercerita "Kita sudah 4 tahun meninggalkan Poso, ini pertamakali kita kembali. Saat kerusuhan, rumah dib***r, toko-toko dib***r, mobil dib***r bahkan saling memb***h". Saya mendengar cerita beliau dan jantung mulai berdetak cepat. Kiri kanan gelap, deretan pepohonan tinggi menambah seram isi cerita, saya takut. Ibu baik hati melanjutkan cerita "Toko pakaian kita dib***r, itu sebab kita mengungsi dulu ke jakarta". Lanjutnya dengan pandangan menoleh kebelakang dimana saya duduk "Kami ingin berdagang kain kembali di Poso". Selain itu juga bercerita kemarahannya terhadap kaum minoritas. Selama cerita selalu membela kaum mayoritas. Saya dalam hati berdoa "Ya Allah-ku jagalah hidupku".
Laju mobil kecepatan 73 km/jam. Rasa mengantuk hilang. Belok kanan. Belok Kiri. Naik. Turun. Ibu baik hati duduk ditengah, saya duduk dibelakang, sementara supir seorang diri didepan. Kami naik mobil kijang. Jantung terus berdetak. Dipikiran saya saat itu, takut diturunkan ditengah jalan. Kenapa ? Karena beliau belum tahu kalau saya kaum minoritas. Saya kuatir muncul kemarahan Ibu baik hati. Keyakinan kita beda. Coba bayangkan seandainya anda satu mobil dengan musuh dan anda berada di daerah konflik itu. Banyak cerita lain dari Ibu baik hati, tapi saya tidak berani menulis diblog ini. Perjalanan ini, momen puncak ketakutan saya sampai saat ini. Pintu kematian terbuka. Saya ingin cepat-cepat tiba di Poso.
Jarak Poso 20 km lagi. Pos TNI mulai terlihat, mobil kita diberhentikan. Diperiksa. Sepuluh kilometer lagi ketemu pos TNI. Hati mulai agak tenang. Ada 4 prajurit TNI baret hijau yang berjaga. Makin dekat ke Poso, giliran ibu baik hati yang takut dan kuatir. Subuh kita tiba di Poso, ternyata aman terkendali. Si ibu meminta saya tinggal di rumah sementara, menunggu matahari terbit. Tapi saya tolak dengan halus, Ibu yang baik itu meminta supir untuk mengantar saya ke penginapan.
Andai anda di posisi saya, dalam perjalan Ibu baik hati bertanya "Agama kamu apa de ?" Apa jawab anda ? Adakah keberanian mempertahankan iman anda ?
Untuk Ibu yang baik hati. Terimakasih atas tumpangannya. Beruntung saya memiliki wajah seperti orang 'Irak' sehingga Ibu baik hati itu mungkin menganggap saya kaum mayoritas. Semoga usaha jualan kain Ibu, sukses di Poso.
Diterangi sorot lampu mobil. Melintas gelap hutan dan pegunungan. Ibu baik hati bercerita "Kita sudah 4 tahun meninggalkan Poso, ini pertamakali kita kembali. Saat kerusuhan, rumah dib***r, toko-toko dib***r, mobil dib***r bahkan saling memb***h". Saya mendengar cerita beliau dan jantung mulai berdetak cepat. Kiri kanan gelap, deretan pepohonan tinggi menambah seram isi cerita, saya takut. Ibu baik hati melanjutkan cerita "Toko pakaian kita dib***r, itu sebab kita mengungsi dulu ke jakarta". Lanjutnya dengan pandangan menoleh kebelakang dimana saya duduk "Kami ingin berdagang kain kembali di Poso". Selain itu juga bercerita kemarahannya terhadap kaum minoritas. Selama cerita selalu membela kaum mayoritas. Saya dalam hati berdoa "Ya Allah-ku jagalah hidupku".
Laju mobil kecepatan 73 km/jam. Rasa mengantuk hilang. Belok kanan. Belok Kiri. Naik. Turun. Ibu baik hati duduk ditengah, saya duduk dibelakang, sementara supir seorang diri didepan. Kami naik mobil kijang. Jantung terus berdetak. Dipikiran saya saat itu, takut diturunkan ditengah jalan. Kenapa ? Karena beliau belum tahu kalau saya kaum minoritas. Saya kuatir muncul kemarahan Ibu baik hati. Keyakinan kita beda. Coba bayangkan seandainya anda satu mobil dengan musuh dan anda berada di daerah konflik itu. Banyak cerita lain dari Ibu baik hati, tapi saya tidak berani menulis diblog ini. Perjalanan ini, momen puncak ketakutan saya sampai saat ini. Pintu kematian terbuka. Saya ingin cepat-cepat tiba di Poso.
Jarak Poso 20 km lagi. Pos TNI mulai terlihat, mobil kita diberhentikan. Diperiksa. Sepuluh kilometer lagi ketemu pos TNI. Hati mulai agak tenang. Ada 4 prajurit TNI baret hijau yang berjaga. Makin dekat ke Poso, giliran ibu baik hati yang takut dan kuatir. Subuh kita tiba di Poso, ternyata aman terkendali. Si ibu meminta saya tinggal di rumah sementara, menunggu matahari terbit. Tapi saya tolak dengan halus, Ibu yang baik itu meminta supir untuk mengantar saya ke penginapan.
Andai anda di posisi saya, dalam perjalan Ibu baik hati bertanya "Agama kamu apa de ?" Apa jawab anda ? Adakah keberanian mempertahankan iman anda ?
Untuk Ibu yang baik hati. Terimakasih atas tumpangannya. Beruntung saya memiliki wajah seperti orang 'Irak' sehingga Ibu baik hati itu mungkin menganggap saya kaum mayoritas. Semoga usaha jualan kain Ibu, sukses di Poso.
Wednesday, June 1, 2011
Bab 13 Kampus Evakuasi #2/2
Mei 1998, oleh tim relawan dan mahasiswa fakultas kedokteran, Hall B Gedung B, disulap jadi ruang perawatan, dengan peralatan dan obat-obat yang super lengkap. Andai anda pembaca menyaksikan semua itu, pasti hati anda bergetar. Itu dilakukan sebelum Presiden Soeharto jatuh. Jadi bayangkan deg-degkan jantungnya tim relawan dan mahasiswa kedokteran saat itu, bahkan Pak Frans Seda sampai dipanggil oleh pihak intelijen. Ditanya tentang peralatan kedokteran yang lengkap di Atmajaya, jawab Pak Frans "Karena kalian menghadang demonstrasi menggunakan senjata lengkap".
Untuk kawan kawan tahun 1998, kalian adalah GHOST, tak akan tercatat di buku sejarah, tetapi di hati ini.
Untuk Pak Frans Seda, Rest in peace. Semangat dan inspirasi Bapak luar biasa.
Untuk Rakyat Indonesia, terimakasih tak terhingga atas dukungannya. Kalian selalu berada dibelakang kami, ditengah kami dan didepan kami. Apakah gerakan mahasiswa 1998 membawa bangsa Indonesia menjadi lebih maju atau mundur, waktu yang akan menjawabnya kelak.
Untuk kawan kawan tahun 1998, kalian adalah GHOST, tak akan tercatat di buku sejarah, tetapi di hati ini.
Untuk Pak Frans Seda, Rest in peace. Semangat dan inspirasi Bapak luar biasa.
Untuk Rakyat Indonesia, terimakasih tak terhingga atas dukungannya. Kalian selalu berada dibelakang kami, ditengah kami dan didepan kami. Apakah gerakan mahasiswa 1998 membawa bangsa Indonesia menjadi lebih maju atau mundur, waktu yang akan menjawabnya kelak.
Sunday, May 1, 2011
Bab 12 Kampus Evakuasi #1/2
Suatu malam tahun 1999 menjelang sidang umum MPR, polisi masuk kampus. Berjaga-jaga. Beberapa mahasiswa kebingungan apa yang dilakukan polisi didalam kampus. Bukankah polisi dan TNI tidak boleh masuk kampus ! Besok pagi mahasiswa protes ke pihak rektorat dan yayasan. Diadakanlah pertemuan antara antivis kampus dan pihak rektor dan yayasan. Hadir disana Pak Frans Seda.
Pak Frans Seda menjelaskan "Bahwa kampus diinfokan akan diserang oleh pihak lain, oleh karena itu kami mengundang polisi untuk menjaga keamanan dan ancaman". Kata Pak Frans "Kampus ini dibangun dengan susah payah, kita harus menjaganya". Beberapa mahasiswa mengeluarkan pendapat dan argumen sehingga terjadi dialog. Dalam dialog tersebut, Pak Frans menyatakan bahwa kita akan membangun monumen atau tugu untuk mengenang peristiwa semanggi yang menelan korban jiwa mahasiswa dan rakyat.
Lalu seorang mahasiswa menanggapi,"Kita hanya mahasiswa. Bukan siapa-siapa, RAKYAT pejuang sesungguhnya". Lanjut mahasiswa tersebut, "Kita hanya ingin dikenang sebagai kampus evakuasi, kampus kemanusiaan, bukan kampus reformasi". Mendengar itu, kita semua tertegun. Itulah mengapa sampai detik ini tidak ada monumen atau tugu peristiwa semanggi, yang ada adalah kisah keteguhan hati, kisah keberanian dan kisah kemanusiaan. Itulah tempat kuliah saya. ATMAJAYA.
Pak Frans Seda menjelaskan "Bahwa kampus diinfokan akan diserang oleh pihak lain, oleh karena itu kami mengundang polisi untuk menjaga keamanan dan ancaman". Kata Pak Frans "Kampus ini dibangun dengan susah payah, kita harus menjaganya". Beberapa mahasiswa mengeluarkan pendapat dan argumen sehingga terjadi dialog. Dalam dialog tersebut, Pak Frans menyatakan bahwa kita akan membangun monumen atau tugu untuk mengenang peristiwa semanggi yang menelan korban jiwa mahasiswa dan rakyat.
Lalu seorang mahasiswa menanggapi,"Kita hanya mahasiswa. Bukan siapa-siapa, RAKYAT pejuang sesungguhnya". Lanjut mahasiswa tersebut, "Kita hanya ingin dikenang sebagai kampus evakuasi, kampus kemanusiaan, bukan kampus reformasi". Mendengar itu, kita semua tertegun. Itulah mengapa sampai detik ini tidak ada monumen atau tugu peristiwa semanggi, yang ada adalah kisah keteguhan hati, kisah keberanian dan kisah kemanusiaan. Itulah tempat kuliah saya. ATMAJAYA.
Friday, April 1, 2011
Bab 11 Damai Poso #1/4
Deg-degkan ke Poso Sulawesi Tengah. Rusuh dan pertikaian. Saya ke sana dalam rangka persiapan kedatangan Pak Yusuf Kalla, saat itu Menteri Kesejahteraan Rakyat, dalam rangka memberi sumbangan kendaraan operasional puskesmas, mobil polisi dan obat. Jaringan GSM belum ada, saya mempersiapkan itu. Oh ya, jangan berpikir saya orang penting ya. Saya hanya tukang panjat tower. Dan bagian kecil dari beberapa tim.
Saya berangkat dari Bandara Soekarno Hatta, pukul 7 pagi wib, naik penerbangan Jakarta - Palu, tapi transit di Makasar. Tiba di Makasar pukul 9.30 wit. Ternyata mengalami delay saat akan lanjut ke Palu. Alasan gangguan operasional. Para penumpang diistirahatkan di hotel. Bermacam profesi kumpul, ada polisi, PNS, mahasiswa, pedagang, pengusaha kecil. Usia 20an sampai 60an, sekitar 14 penumpang. Kita jadi akrab dan berbagi cerita. Lama juga delay, sampai pukul 5 sore kita masih di hotel. Mulai kesel semua penumpang. Si polisi ngusulin "Gimana kalau kita bikin tenda ditengah bandara aja, pasti diliput media dan terkenal, tapi setelah itu siap disel".
Pukul 8 malam take off ke Palu. Tiba di Palu pukul 10 malam, turun pesawat ambil bagasi. Keluar bandara. Saya bingung juga. Nginap satu malam dulu di Palu atau langsung ke Poso. Jarak Palu - Poso ditempuh 4 jam. Tiba-tiba seorang Ibu baik hati, satu pesawat bersama saya, menegur "De, mau ke poso ya ?". Saya jawab "Ya Bu, tapi saya bingung". Jawab Ibu baik hati "Bareng Ibu aja, Ibu juga ke Poso dan hanya berdua. Ibu dijemput". Akhirnya saya iya'kan ajakan Ibu baik hati karena terdesak waktu meng-on air-kan sinyal GSM di Poso.
...bersambung ke Bab 14 Damai Poso #2/4
Saya berangkat dari Bandara Soekarno Hatta, pukul 7 pagi wib, naik penerbangan Jakarta - Palu, tapi transit di Makasar. Tiba di Makasar pukul 9.30 wit. Ternyata mengalami delay saat akan lanjut ke Palu. Alasan gangguan operasional. Para penumpang diistirahatkan di hotel. Bermacam profesi kumpul, ada polisi, PNS, mahasiswa, pedagang, pengusaha kecil. Usia 20an sampai 60an, sekitar 14 penumpang. Kita jadi akrab dan berbagi cerita. Lama juga delay, sampai pukul 5 sore kita masih di hotel. Mulai kesel semua penumpang. Si polisi ngusulin "Gimana kalau kita bikin tenda ditengah bandara aja, pasti diliput media dan terkenal, tapi setelah itu siap disel".
Pukul 8 malam take off ke Palu. Tiba di Palu pukul 10 malam, turun pesawat ambil bagasi. Keluar bandara. Saya bingung juga. Nginap satu malam dulu di Palu atau langsung ke Poso. Jarak Palu - Poso ditempuh 4 jam. Tiba-tiba seorang Ibu baik hati, satu pesawat bersama saya, menegur "De, mau ke poso ya ?". Saya jawab "Ya Bu, tapi saya bingung". Jawab Ibu baik hati "Bareng Ibu aja, Ibu juga ke Poso dan hanya berdua. Ibu dijemput". Akhirnya saya iya'kan ajakan Ibu baik hati karena terdesak waktu meng-on air-kan sinyal GSM di Poso.
...bersambung ke Bab 14 Damai Poso #2/4