Wednesday, October 5, 2011

Bab 18 Damai Poso #4/4

Ketika duduk di pesawat ketinggian 12.000 kaki, pikiran melintas seorang prajurit TNI saat di Poso yang berkata "Makasih Mas, saya bisa berkomunikasi dengan keluarga tanpa putus-putus" dengan menampakan wajah gembira beliau berkata kembali "Jelas sekali suara anak saya". Air mata ini menetes memandang awan putih melalui jendela pesawat.

"Selamat bertugas wahai prajurit-prajurit TNI dan Polri dimanapun kalian berada"
"Selamat HUT TNI ke 66, 5 Oktober 2011"

Saturday, October 1, 2011

Bab 17 Damai Poso #3/4

Misi komplit, sinyal GSM sudah bisa dinikmati warga Poso, terutama aparat TNI dan kepolisian yang semula menggunakan telepon satelit. Pada saat Bapak Yusuf Kalla tiba di Poso, saya sudah berada di pesawat ketinggian 12.000 kaki, melanjutkan perjalanan ke kota lain.

Damai Poso. Damai NEGERI ku INDONESIA.

Thursday, September 1, 2011

Bab 16 Yuk Makan

Serafina digendong 'Ratu Dongeng' Poetri Soehendro, penyiar pagi-pagi i-radio 89.6 FM Jakarta ketika acara Yuk Makan Edisi 2 di restauran Sandwich Bakar, kelapa gading, Juni 2009. Usia Serafina sekitar 8 bulan. Makasih ya Mba Poetri Bang Rafiq dan kru i-radio Ade 'Pentol Korek' Putra dan Nino Budiyanto atas undangan Yuk Makan ini.

Ayo tebak, Bang Rafiq dimana ?

...bersambung...

Monday, August 1, 2011

Bab 15 Supir Gila

Setelah pekerjaan pemasangan antena link di Manado selesai, saya dapat tugas ke Gorontalo. Saya menolak naik pesawat, ingin jalan darat. Saya ingin menikmati keindahan alam Manado. Ke travel mobil, pesan tiket. Rencana berangkat pukul 5 sore. Aneh juga harga tiket travel mobil di Manado, beda-beda, tergantung tempat duduk. Paling mahal duduk depan 90ribu rupiah, lalu tengah 70ribu rupiah dan termurah belakang 60ribu rupiah.

Mobil mulai meluncur, menyusuri pinggir laut, indah sekali laut di sore hari. Setelah 4 jam perjalanan, berhenti untuk istirahat dan makan malam sekitar pukul 9 malam. Direstauran itu ternyata tempat pemberhentian mobil-mobil travel lain. Selesai makan malam, mobil kembali jalan dengan berkonvoi, sekitar 6 mobil. Dimulailah ketegangan.

Dasar supir gila dan ini cuma ada di Manado. Saat konvoi 6 mobil, hanya mobil paling depan yang menyalakan lampu. Mobil deret ke dua sampai ke enam, matikan lampu. GILA GILA GILA !!! Saya sama saja berjalan dipinggir maut, pintu neraka terbuka lebar. Saya ada di mobil deret ke tiga. Kecepatan 100 km/jam, jarak antar mobil sejenggal jari tangan. Nempel banget karena cahaya hanya dari mobil paling depan.

Saya mual-mual, sering berkata "Bang awas" sambil pegangan dashboard, tutup mata, demikian juga penumpang yang lain. Anda bayangkan, 12 jam perjalanan seperti itu. Lebih gila, kadang mobil paling depan, tiba-tiba matikan lampu. Mobil dibelakang panik, langsung nyalakan lampu. Ampun deh. Saya super kapok naik travel lagi Manado - Gorontalo dan sebaliknya.