Wednesday, June 1, 2011

Bab 13 Kampus Evakuasi #2/2

Mei 1998, oleh tim relawan dan mahasiswa fakultas kedokteran, Hall B Gedung B, disulap jadi ruang perawatan, dengan peralatan dan obat-obat yang super lengkap. Andai anda pembaca menyaksikan semua itu, pasti hati anda bergetar. Itu dilakukan sebelum Presiden Soeharto jatuh. Jadi bayangkan deg-degkan jantungnya tim relawan dan mahasiswa kedokteran saat itu, bahkan Pak Frans Seda sampai dipanggil oleh pihak intelijen. Ditanya tentang peralatan kedokteran yang lengkap di Atmajaya, jawab Pak Frans "Karena kalian menghadang demonstrasi menggunakan senjata lengkap".

Untuk kawan kawan tahun 1998, kalian adalah GHOST, tak akan tercatat di buku sejarah, tetapi di hati ini.

Untuk Pak Frans Seda, Rest in peace. Semangat dan inspirasi Bapak luar biasa.

Untuk Rakyat Indonesia, terimakasih tak terhingga atas dukungannya. Kalian selalu berada dibelakang kami, ditengah kami dan didepan kami. Apakah gerakan mahasiswa 1998 membawa bangsa Indonesia menjadi lebih maju atau mundur, waktu yang akan menjawabnya kelak.

Sunday, May 1, 2011

Bab 12 Kampus Evakuasi #1/2

Suatu malam tahun 1999 menjelang sidang umum MPR, polisi masuk kampus. Berjaga-jaga. Beberapa mahasiswa kebingungan apa yang dilakukan polisi didalam kampus. Bukankah polisi dan TNI tidak boleh masuk kampus ! Besok pagi mahasiswa protes ke pihak rektorat dan yayasan. Diadakanlah pertemuan antara antivis kampus dan pihak rektor dan yayasan. Hadir disana Pak Frans Seda.

Pak Frans Seda menjelaskan "Bahwa kampus diinfokan akan diserang oleh pihak lain, oleh karena itu kami mengundang polisi untuk menjaga keamanan dan ancaman". Kata Pak Frans "Kampus ini dibangun dengan susah payah, kita harus menjaganya". Beberapa mahasiswa mengeluarkan pendapat dan argumen sehingga terjadi dialog. Dalam dialog tersebut, Pak Frans menyatakan bahwa kita akan membangun monumen atau tugu untuk mengenang peristiwa semanggi yang menelan korban jiwa mahasiswa dan rakyat.

Lalu seorang mahasiswa menanggapi,"Kita hanya mahasiswa. Bukan siapa-siapa, RAKYAT pejuang sesungguhnya". Lanjut mahasiswa tersebut, "Kita hanya ingin dikenang sebagai kampus evakuasi, kampus kemanusiaan, bukan kampus reformasi". Mendengar itu, kita semua tertegun. Itulah mengapa sampai detik ini tidak ada monumen atau tugu peristiwa semanggi, yang ada adalah kisah keteguhan hati, kisah keberanian dan kisah kemanusiaan. Itulah tempat kuliah saya. ATMAJAYA.

Friday, April 1, 2011

Bab 11 Damai Poso #1/4

Deg-degkan ke Poso Sulawesi Tengah. Rusuh dan pertikaian. Saya ke sana dalam rangka persiapan kedatangan Pak Yusuf Kalla, saat itu Menteri Kesejahteraan Rakyat, dalam rangka memberi sumbangan kendaraan operasional puskesmas, mobil polisi dan obat. Jaringan GSM belum ada, saya mempersiapkan itu. Oh ya, jangan berpikir saya orang penting ya. Saya hanya tukang panjat tower. Dan bagian kecil dari beberapa tim.

Saya berangkat dari Bandara Soekarno Hatta, pukul 7 pagi wib, naik penerbangan Jakarta - Palu, tapi transit di Makasar. Tiba di Makasar pukul 9.30 wit. Ternyata mengalami delay saat akan lanjut ke Palu. Alasan gangguan operasional. Para penumpang diistirahatkan di hotel. Bermacam profesi kumpul, ada polisi, PNS, mahasiswa, pedagang, pengusaha kecil. Usia 20an sampai 60an, sekitar 14 penumpang. Kita jadi akrab dan berbagi cerita. Lama juga delay, sampai pukul 5 sore kita masih di hotel. Mulai kesel semua penumpang. Si polisi ngusulin "Gimana kalau kita bikin tenda ditengah bandara aja, pasti diliput media dan terkenal, tapi setelah itu siap disel".

Pukul 8 malam take off ke Palu. Tiba di Palu pukul 10 malam, turun pesawat ambil bagasi. Keluar bandara. Saya bingung juga. Nginap satu malam dulu di Palu atau langsung ke Poso. Jarak Palu - Poso ditempuh 4 jam. Tiba-tiba seorang Ibu baik hati, satu pesawat bersama saya, menegur "De, mau ke poso ya ?". Saya jawab "Ya Bu, tapi saya bingung". Jawab Ibu baik hati "Bareng Ibu aja, Ibu juga ke Poso dan hanya berdua. Ibu dijemput". Akhirnya saya iya'kan ajakan Ibu baik hati karena terdesak waktu meng-on air-kan sinyal GSM di Poso.

...bersambung ke Bab 14 Damai Poso #2/4

Tuesday, March 1, 2011

Bab 10 Jakarta - Bandung

Berikut cerita ter'update saya, selingan supaya tak bosan baca tentang cerita masa lalu.

Sudah satu tahun ini harus bolak balik Jakarta - Bandung. Saya kerja di Jakarta, masih manjat tower, sementara bulan Agustus tahun 2009 lalu, istri dan anak menetap di Bandung. Istri diterima jadi dosen di fakultas kedokteran gigi salah satu universitas swasta di kota Bandung, yaitu Universitas Kristen Maranatha. Jumat malam saya meluncur ke Bandung, bertemu keluarga, lalu Senin pagi merapat lagi ke Jakarta. Saya ingin mengutip kalimat salah satu penyiar radio di Jakarta "Ayah weekend dan suami weekend". Sedih banget dengar komentar penyiar tersebut tetapi itu merupakan tantangan bagi saya yang ditimpuk oleh penyiar tersebut. Dalam hati ku berdoa "Sabar ya anak ku, nanti ayah akan pindah ke Bandung. Amin.".